• PONDOK PESANTREN YANABI'UL 'ULUM WAL HIKAM
  • Cerdas, Mandiri & Berkhlaqul Kharimah

KHUTBAH IDUL ADHA

 

Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd.

Khutbah I

الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر عدد ما هلل مهلل وكبر، الله أكبر عدد من حج البيت واعتمر، الله أكبر كلما ذكره الذاكرون وغفل عن ذكره الغافلون. الله أكبر كلما يطوف الناس بالبيت العتيق ويسعون، الله أكبر خالق الأنعام، فأجزل بالإنعام، اللَّهُ أَكْبَرُ أَحَاطَ عِلْمُهُ بِكُلِّ شَيْءٍ. اللَّهُ أَكْبَرُ لَا يَقِفُ أَمَامَ قُوَّتِهِ شَيْءٌ. اللَّهُ أَكْبَرُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ. اللَّهُ أَكْبَرُ؛ يُحِبُّ الْمُؤْمِنِينَ، وَيَقْبَلُ التَّائِبِينَ، وَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ، وَيُجِيبُ الدَّاعِينَ، وَيُعْطِي السَّائِلِينَ، وَهُوَ الْجَوَادُ الْكَرِيمُ. الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله وبحمده بكرة وأصيلا، لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد.

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات، وبفضله تتنـزل الرحمات، أحمده سبحانه وأشكره، شرع لنا الأعياد، وأفاض علينا السرور، ونوَّر قلوب المؤمنين بنور التقوى والحبور، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له العزيز الغفور، وأشهد أن سيدنا محمداً عبده ورسوله، أرسله الله تعالى بين يدي الساعة بشيراً ونذيراً، وداعياً إلى الله بإذنه وسراجاً منيراً، فبلغ الرسالة، وأدى الأمانة، ونصح الأمة، وجاهد في الله حق جهاده حتى أتاه اليقين، فصلوات الله وسلامه عليه، وعلى آله الطيبين الطاهرين، وصحابته الغر الميامين، والتابعين ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

أما بعد: فيا أيها المسلمون: اتقوا الله تعالى حق التقوى

الله أكبر الله أكبر الله أكبر

لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

Hadirin jama’ah sholat idul adha yang dirahmati Allah

Idul Adha adalah istilah yang terdiri dari dua kata, yaitu عيد dan أضحى. Id secara bahasa artinya kembali dan Adha artinya pengorbanan. Artinya pada hari ini, kita harus kembali pada semangat perjuangan dan pengorbanan demi tegaknya agama Allah di muka bumi ini.

pada momen ini, kita diingatkan kembali  atas kisah pengorbanan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam bersama putranya, Nabi Ismail ‘alaihi salam. Sebuah kisah yang begitu luar biasa, yang menyentuh kalbu dan jiwa, peristiwa yang jarang  bisa dilaksanakan oleh manusia biasa.  Ayah dan anak  keduanya kompak  menunjukkan ketundukan yang sempurna kepada Allah Rabb al-’Alamin. Nabi Ibrahim menunjukkan keberanian luar biasa untuk melaksanakan perintah Allah, meskipun itu berarti harus mengorbankan sesuatu yang paling dicintai yaitu anak kesayangannya.  Dan di sisi lain, kita juga kagum kepada Nabi Ismail as yang juga  menunjukkan ketaatan yang luar biasa kepada ayah dan kepada Tuhannya walaupun harus mengorbankan dirinya.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر

لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral mu’minin rahimakumullah

Kendati sejarah kurban sudah berlangsung sejak generasi pertama umat manusia, namun syariat ibadah kurban dimulai dari cerita perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anak kesayangannya, Nabi Ismail AS. Seorang anak yang ia idam-idamkan bertahun-tahun karena istrinya sekian lama mandul.

Dalam Surat ash-Shaffat dijelaskan bahwa semula Nabi Ibrahim berdoa:

رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya: Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.

Allah SWT lalu memberi kabar gembira dengan anugerah kelahiran seorang anak yang amat cerdas dan sabar (ghulâm halîm). Hanya saja, ketika anak itu menginjak dewasa, Nabi Ibrahim diuji dengan sebuah mimpi. Ia berkata, "Wahai anakku, dalam tidur aku bermimpi berupa wahyu dari Allah yang meminta aku untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapat kamu?" Anak yang saleh itu menjawab, "Wahai bapakku, laksanakanlah perintah Tuhanmu. Insyaallah kamu akan dapati aku termasuk orang-orang yang sabar."

Pengorbanan besar ini diabadikan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an pada surat al-Shaffat, ayat 102:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ 

Artinya: "Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”

Tatkala sang bapak dan anak pasrah kepada ketentuan Allah, Ibrahim pun membawa anaknya ke suatu tumpukan pasir. Lalu Ibrahim membaringkan Ismail dengan posisi pelipis di atas tanah dan siap disembelih.

Atas kehendak Allah, drama penyembelihan anak manusia itu batal dilaksanakan. Allah berfirman dalam ayat berikutnya:

إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) 'Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim'. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.

 

الله أكبر الله أكبر الله أكبر

لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral mu’minin rahimakumullah

Nabi Ibrahim adalah figure bapak yang taat kepada  Tuhan tetapi menghormati pendapat orang lain. Beliau berjiwa demokratis mengajak bermusyarah dengan putranya untuk minta pendapatnya. Begitu pula sang anak sama sama punya keimanan yang tinggi menyatakan kesediannya, sehingga terjadi harmoni dalam melaksanakan perintah Tuhan. Tidak ada paksaan dalam beragama.

Kisah tersebut di atas sangat menarik untuk  diambil pelajaran penting dalam   keberagamaan kita  di masa kini. Keberagamaan harus bertumpu pada kesadaran penuh akan nilai-nilai spiritual. Nabi Ibrahim adalah teladan keberagamaan yang tidak hanya menitikberatkan ibadah ritual, tetapi juga keberanian moral, keikhlasan, dan kepatuhan yang teguh kepada perintah Tuhan.

الله أكبر الله أكبر الله أكبر

لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral mu’minin rahimakumullah

Hari Raya Idul Adha tidak hanya tentang ritual ibadah shalat dan takbir saja, namun juga untuk membangun dan memperkuat hubungan sosial. Dan hal ini bisa kita raih dengan cara berkurban. Dengan berkurban, selain menjadi bentuk kepatuhan dan wujud syukur setiap Muslim kepada Allah, juga memiliki makna sosial yang sangat dalam, yaitu merasakan empati terhadap sesama yang kurang beruntung sekaligus memperkuat rasa kebersamaan dalam membagi rezeki. Oleh sebab itu, ibadah kurban harus benar-benar dibangun atas dasar kesadaran dan kepedulian yang tinggi kepada saudara-saudara yang kurang mampu, sehingga orang-orang yang berkurban akan melakukannya dengan penuh ikhlas karena Allah semata. Dan, semua ini tidak bisa kita raih selain dilandasi dan didasari oleh ketakwaan kepada-Nya.

 

Meskipun, praktik kurban sebenarnya sudah dilaksanakan putra Nabi Adam yakni Qabil dan Habil. Diceritakan bahwa Qabil adalah seorang menggeluti pertanian dan perkebunan sedangkan Habil adalah seorang peternak kambing, keduanya diperintahkan oleh Allah untuk berkurban dalam rangka memperebutkan hak menikahi Ikrimah yang mana perintah Allah menyatakan bahwa Habil yang berhak menikahi Ikrimah saudari kembar Qabil, dan Qabil menikah dengan Labudza saudari kembar Habil. Setelah keduanya melaksanakan perintah kurban, ternyata kurban yang diterima adalah kurban Habil bukan Qabil. Itu pun bukan daging atau darah yang Allah terima namun ketulusan hati dan ketakwaan dari si pemberi kurban.

Berkaitan dengan hal ini, Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

 لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Artinya, “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS Al-Hajj, [22]: 37).

Perintah untuk membangun kepedulian sosial kepada kerabat, saudara, fakir-miskin dan lainnya, juga tertuang dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’, Allah swt berfirman:

 وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki.” (QS An-Nisa’, [4]: 36).

Tidak hanya ayat di atas, Rasulullah juga menegaskan bahwa tidak sempurna iman orang yang hanya berpikir tentang perutnya sendiri dan mengenyangkannya, tanpa mempedulikan saudara dan tetangganya yang kelaparan. Dalam hadits yang berasal Ibnu Abbas, Rasulullah saw bersabda:

 لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ

Artinya, “Tidaklah beriman, orang yang selalu kenyang, sementara tetangganya lapar sampai ke lumbungnya.” (HR Al-Baihaqi).

الله أكبر الله أكبر الله أكبر

لا إله إلا الله والله أكبر، الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral mu’minin rahimakumullah

Itulah pentingnya menjadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk membangun kepedulian sosial dan empati terhadap sesama, yaitu dengan cara berkurban. Oleh karena itu, hari raya tidak hanya tentang ibadah shalat sunnah saja, namun juga tentang kepedulian sosial kepada sesama, yaitu dengan cara berkurban. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjadikan momentum perayaan shalat sunnah Idul Adha ini sebagai ajang untuk membangun spirit kebahagiaan bersama, kepedulian bersama dan empati kepada orang-orang yang tidak mampu, sehingga harapannya, kita semua dijadikan hamba-hamba yang dicintai dan disenangi oleh Allah swt.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمُ

Khutbah II

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر

الله أكبر على كل صغير وكبير، الله أكبر له الحمد و التكبير، الله أكبر بالحق نصير، الله أكبر على ما يشاء قدير

اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ به وَ كَفَرَ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ سَيِّدُ الخلائق وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ مصابيح الغرر وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.

اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ أَمَرَكُم بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِه،وَثَنَّى بِالمَلَائِكَةِ المُسَبِّحَةِ لِقُدْسِهِ وَثَلَّثَ بِكُم أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ مِن بَرِيَّةِ جِنِّهِ وَإِنْسِه وَفَالَ تَعَالَى مُخْبِرًا وَآمرًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ َارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سيدنا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سيدنا اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين ساداتنا أبي بكر وعمر وعثمان وعلي وعن سائر الصحابة والتابعين والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين وعنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اللهم أعزّ الإسلام والمسلمين واخذل الكفرة والمبتدعة والمشركين. اللهم وفّق ولاة أمورنا إلى ما فيه صلاح الإسلام والمسلمين. اللهم أحببهم للرعية وأحبب الرعية منهم. واجعل جمهورية إندونيسا هذه بلدة آمنة مطمئنّة وسائر بلدان المسلمين إنك على ما تشاء قدير.

رَبَّنَا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبَنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Tulisan Lainnya
Berpamitan Dengan Bulan Ramadhan

Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. (28 Maret 2025) Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلّٰهِ الكَبِيْرِ الـمُتَعَالِ ذِي الإِنْعَامِ وَا

28/03/2025 09:40 - Oleh blog pondok - Dilihat 78 kali
Nuzulul Quran Jejak Wahyu di Bulan Suci Ramadan

Ditulis: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. Khutbah I الْحَمْدُ لِلّٰهِ الكَبِيْرِ الـمُتَعَالِ ذِي الإِنْعَامِ وَالإِفْضَال

13/03/2025 16:35 - Oleh blog pondok - Dilihat 47 kali
Peringatan Isra' dan Mi'raj Serta Pentingnya Menjaga Sholat Lima Waktu

Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. Khutbah I الْحَمْدُ لِلّٰهِ الكَبِيْرِ الـمُتَعَالِ ذِي الإِنْعَامِ وَالإِفْضَال ال

20/01/2025 15:38 - Oleh Administrator - Dilihat 118 kali
Taat Kepada Pemerintah yang Sah

Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd.  Khotbah Pertama   الحمد لله أهل الحمد والثناء، المنفرد برداء الكبرياء، المتوحد بصف

30/09/2024 09:10 - Oleh Administrator - Dilihat 100 kali
Meneladani Akhlak Rasulullah SAW

Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. Khotbah Pertama إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَن

13/09/2024 12:45 - Oleh Administrator - Dilihat 138 kali
Mengingat Mati

الحمد لله ذي العزة والجبروت. مالك الملك والملكوت. الحي الدائم الذي لا يموت. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِ

09/09/2024 09:32 - Oleh Administrator - Dilihat 131 kali
Bersyukur kepada Allah

Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. الحمد لله أهل الحمد والثناء، المنفرد برداء الكبرياء، المتوحد بصفات المجد والعلاء

24/08/2024 16:34 - Oleh Administrator - Dilihat 305 kali