Peringatan Isra' dan Mi'raj Serta Pentingnya Menjaga Sholat Lima Waktu
Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الكَبِيْرِ الـمُتَعَالِ ذِي الإِنْعَامِ وَالإِفْضَال الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا فَكَشَفَ لَهُ عَنْ أَعْلَى الـمَلَكُوتِ. فَأَرَاهُ سَنَاءَ الجَبَرُوتِ. حَتَّى نَظَرَ إِلَى قُدْرَةِ الحَيِّ الدَّائِمِ البَاقِي الَّذِي لَا يَمُوتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ صَلَاةً مَقْرُونَةً بِالجَمَال. وَالحُسْنِ وَالكَمَال. وَالخَيْرِ وَالإِفْضَال. أما بعد....
فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ العَظِيْمِ، إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى فِيْ السِّرِّ وَالعَلَنِ، قال تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوْا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Maasyiral Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Sebuah keniscayaan bagi kita semua untuk terus menguatkan rasa syukur dan juga takwa kepada Allah swt yang telah menganugerahkan hidup dan kehidupan di jalan yang benar dan diridhai-Nya yakni berada dalam nikmatnya iman dan Islam. Semua anugerah ini harus kita syukuri dengan terus menguatkan takwa berupa menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan menguatkan takwa, Allah akan memberikan jalan keluar dari berbagai permasalahan yang kita hadapi. Dengan bersyukur, Allah akan senantiasa menambah nikmat yang telah dianugerahkan. Bersyukur adalah cerminan jika kita adalah orang yang tahu diri dan tahu berterimakasih.
Maasyiral Muslimin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Saat ini kita telah sampai pada penghujung Bulan Rajab yang mana merupakan salah satu dari empat bulan haram atau Asyhurul Hurum yang Allah sebutkan dalam Al-Qur'an. Dalam bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal ibadah karena Rajab disebut sebagai bulannya Allah swt. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw bersabda:
رَجَبُ شَهْرُ اللهِ، وَشَعْبَانُ شَهْرِيْ، وَرَمَضَانُ شَهْرُ أُمَّتِيْ
Artinya, “Bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.” (HR ad-Dailami).
Jika menyebut kata Rajab, maka kita akan teringat peristiwa agung yang menambah keimanan kita yakni Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad. Dalam perjalanan spiritual tersebut, Rasulullah mendapatkan ‘oleh-oleh’ yang diberikan Allah untuk umat Islam yakni kewajiban shalat lima waktu. ‘Oleh-oleh’ shalat ini menjadi inti perjalanan Isra’ Mi’raj dan merupakan fardhu ain atau kewajiban setiap individu umat Islam yang lebih utama jika dilakukan secara berjamaah.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW merupakan perjalanan yang sangat jauh dan sulit untuk digambarkan dengan akal, namun bisa Rasulullah tempuh dengan tempo waktu yang sangat singkat, bahkan akal tidak bisa menerima kenyataan itu jika tidak dilandasi dengan keimanan yang matang.
Isra adalah peristiwa ketika Allah swt memperjalankan Rasulullah dari Masjidil Haram, Makkah, menuju Masjidil Aqsha di Paletina. Sedangkan yang dimaksud dengan Mi’raj adalah peristiwa berikutnya, yaitu dinaikkannya Rasulullah melintasi lapisan-lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau pengetahuan malaikat, manusia, maupun jin. Semua itu terjadi dalam satu malam. Berkaitan dengan hal ini, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya, “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS Al-Isra;1).
Sedangkan terkait dengan mi’raj dijelaskan oleh Allah dalam surat Al Ma’arij ayat 1-4:
سَاَلَ سَاۤىِٕلٌۢ بِعَذَابٍ وَّاقِعٍۙ لِّلْكٰفِرِيْنَ لَيْسَ لَه دَافِعٌۙ مِّنَ اللّٰهِ ذِى الْمَعَارِجِۗ تَعْرُجُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ اِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُه خَمْسِيْنَ اَلْفَ سَنَةٍۚ
Artinya: “Seseorang (dengan nada mengejek) meminta (didatangkan) azab yang pasti akan terjadi. bagi orang-orang kafir. Tidak seorang pun yang dapat menolaknya (azab). dari Allah, Pemilik tempat-tempat (untuk) naik. Para malaikat dan Rūḥ (Jibril) naik (menghadap) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun”.
Maksudnya, Jibril dan para malaikat lain butuh waktu satu hari perjalanan untuk menghadap Allah Swt. Satu hari dalam dunia malaikat sama dengan lima puluh ribu tahun dalam dunia manusia.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Firman Allah tersebut menjelelaskan bahwa hikmah adanya isra mi’raj adalah Allah hendak memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada nabi. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Syekh at-Thanthawi dalam Tafsir al-Wasith lil Qur’anil Karim, “untuk menunjukkan betapa mulianya Nabi Muhammad di sisi Tuhannya, sekaligus untuk menambah keyakinannya dalam menyampaikan risalah dan amanahnya. Selain untuk memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah, terdapat hikmah lain yang juga sangat penting untuk kita ketahui bersama, yaitu untuk menenangkan dan membahagiakan Rasulullah dari kesedihan yang menimpanya”.
Bagaimana tidak, pada tahun tersebut nabi Muhammad kehilangan 2 sosok orang yang dicintai, yakni paman beliau Abu Thalib orang yang selalu melindungi beliau dalam dakwah, serta Istri tercinta beliau Sayyidah Khadijah binti Khuwailid. Sehingga tahun tersebut dinamakan juga sebagai Aamul hazan atau tahun kesedihan.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Salah satu hal penting yang perlu kita catat dalam peristiwa isra’ dan mi’raj adalah perintah wajibnya sholat 5 waktu. Perintah wajibnya sholat lima waktu disampaikan langsung oleh Allah pada nabi-Nya. Hal ini menunjukkan keistimewaan perintah kewajiban sholat dari pada kewajiban-kewajiban lainnya. Yakni Allah langsung yang menyampaikan perintah tersebut dan tidak melalui perantara malaikat atau wahyu seperti halnya kewajiban zakat, puasa, dan hajji.
Shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Shalat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi merupakan tiang agama, pembeda antara seorang Muslim dengan non-Muslim, serta bentuk pengabdian tertinggi kepada Allah. Rasulullah saw bersabda:
اَلصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنَ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّينَ
Artinya: “Shalat adalah tiang agama. Barang siapa mendirikannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya, maka ia telah meruntuhkan agama” (HR Al-Baihaqi).
Kewajiban mendirikan sholat lima waktu pun tidak seperti kewajiban ibadah lainnya, yang mana apabila terdapat udzur syar’i maka gugur kewajibannya, misalkan: kewajiban haji dan kewajiban zakat. Haji atau zakat akan gugur apabila seorang muslim tidak mampu atau tidak memiliki biaya haji, dan tidak memiliki harta saat datangnya kewajiban zakat. Kewajiban puasa pun akan gugur saat seseorang sudah tidak mampu berpuasa karena sakit yang tidak mungkin diharapkan kesembuhannya atau karena sudah tidak kuat puasa karena tua.
Sedangkan shalat lima waktu bagi seorang muslim mukallaf, selama akal masih sadar dan berfungsi normal (tidak gila), dan tidak dalam udzur haid atau nifas bagi wanita, walaupun keadaan fisik sudah tidak memungkinkan (lumpuh total), kewajiban sholat tidak gugur. Yang tidak mampu sholat dengan berdiri, boleh melaksanakan sholat dengan duduk, kalau masih tidak mampu, maka boleh melaksanakan sholat dengan tidur miring, kalau masih tidak mampu, maka dilaksanakan dengan terlentang, kalau tidak mampu, maka dengan isyarat mata, dan kalaupun masih tidak mampu juga, maka sholat dilaksanakan dalam pikiran dengan dituntun oleh orang disekitarnya.
Sebagaimana pentingnya menjaga shalat lima waktu, meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja tanpa adanya udzur syar’i adalah dosa besar yang dapat menjerumuskan seseorang kepada kekufuran. Rasulullah saw bersabda: “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir” (HR Tirmidzi dan An-Nasa’i). Meninggalkan shalat tanpa uzur syar’i dapat mengundang murka Allah di dunia dan azab yang pedih di akhirat. Allah berfirman tentang penghuni neraka Saqar yang ditanya sebab mereka masuk ke dalamnya:
مَا سَلَكَكُمْ فِيْ سَقَرَ قَالُوْا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّيْنَۙ
Artinya: Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar? Mereka menjawab, Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat (QS Al-Muddassir: 42-43).
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Selain perintah wajibnya shalat, kita sebagai orang tua pun diperintahkan syari’at untuk mendidik anak-anak kita, generasi muda dan penerus kita agar mampu melaksanakan serta menjaga shalat. Dalam hal ini, ada tahapan-tahapan yang perlu dilakukan oleh orang tua untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Sunan-nya:
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ
Artinya: Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun. Kemudian, pukullah mereka untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia sepuluh tahun.” (HR. Abu Daud)
Dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, kita bisa memahami bahwa ada tahapan dalam mendidik anak untuk melaksanakan ibadah shalat. Tahapan ini dimulai sejak anak berusia tujuh tahun hingga mencapai umur sepuluh tahun. Setiap tahapan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. memiliki alasan tertentu. Di usia tujuh tahun, anak diperintahkan untuk mulai shalat agar mereka terbiasa dan merasakan senang dalam melakukannya. Ketika anak memasuki usia sepuluh tahun, mereka diperbolehkan untuk diberi teguran lebih tegas, bahkan pukulan yang mendidik, jika meninggalkan shalat. Sebab, usia ini sudah mendekati masa baligh, yang berarti tanggung jawab ibadah mulai melekat.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Momen Isra dan Mi’raj ini adalah kesempatan berharga. Marilah kita manfaatkan untuk memperbaiki sholat kita serta mendidik anak-anak kita, generasi penerus kita, agar mengenal dan mencintai ibadah shalat. Tidak ada alasan untuk merasa kesulitan, karena di era digital ini, hanya dengan ponsel dan internet, kita bisa mendapatkan materi sebanyak-banyaknya. Jika ingin lebih mendalam, tersedia banyak buku agama yang membahas peristiwa Isra dan Mi’raj. Mari kita siapkan generasi yang bertakwa dengan mendidik mereka sejak dini. Semoga Allah memberi kemudahan dan keberkahan atas usaha kita semua. Aamiin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ به وَ كَفَرَ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ سَيِّدُ الخلائق وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ مصابيح الغرر وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله مِنْ سَمَاعِ اللَغْوِ وفُضُلِ الخَبَر وَانْتَـهُوا عَمَّا نّهّاكُمْ عَنْهُ وَزَجَر وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ أَمَرَكُم بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِه،وَثَنَّى بِالمَلَائِكَةِ المُسَبِّحَةِ لِقُدْسِهِ وَثَلَّثَ بِكُم أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ مِن بَرِيَّةِ جِنِّهِ وَإِنْسِه وَفَالَ تَعَالَى مُخْبِرًا وَآمرًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ َارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سيدنا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سيدنا اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين ساداتنا أبي بكر وعمر وعثمان وعلي وعن سائر الصحابة والتابعين وتابعيهم بإحسان إلى يوم الدين وَارْضَ عَنَّا مَعَهُم برحمتك يا أرحم الراحمين.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اللهم أعزّ الإسلام والمسلمين واخذل الكفرة والمبتدعة والمشركين. اللهم وفّق ولاة أمورنا إلى ما فيه صلاح الإسلام والمسلمين. اللهم أحببهم للرعية وأحبب الرعية منهم. واجعل جمهورية إندونيسا هذه بلدة آمنة مطمئنّة وسائر بلدان المسلمين إنك على ما تشاء قدير.
رَبَّنَا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبَنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ الله! اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ واسألوا من فضله يؤتكم وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ .
Tulisan Lainnya
KHUTBAH IDUL ADHA
Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. Khutbah I الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر عدد ما هلل مهلل وكبر، الله أكبر
Berpamitan Dengan Bulan Ramadhan
Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. (28 Maret 2025) Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلّٰهِ الكَبِيْرِ الـمُتَعَالِ ذِي الإِنْعَامِ وَا
Nuzulul Quran Jejak Wahyu di Bulan Suci Ramadan
Ditulis: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. Khutbah I الْحَمْدُ لِلّٰهِ الكَبِيْرِ الـمُتَعَالِ ذِي الإِنْعَامِ وَالإِفْضَال
Taat Kepada Pemerintah yang Sah
Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. Khotbah Pertama الحمد لله أهل الحمد والثناء، المنفرد برداء الكبرياء، المتوحد بصف
Meneladani Akhlak Rasulullah SAW
Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. Khotbah Pertama إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَن
Mengingat Mati
الحمد لله ذي العزة والجبروت. مالك الملك والملكوت. الحي الدائم الذي لا يموت. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِ
Bersyukur kepada Allah
Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. الحمد لله أهل الحمد والثناء، المنفرد برداء الكبرياء، المتوحد بصفات المجد والعلاء

