Nuzulul Quran Jejak Wahyu di Bulan Suci Ramadan
Ditulis: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الكَبِيْرِ الـمُتَعَالِ ذِي الإِنْعَامِ وَالإِفْضَال الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا فَكَشَفَ لَهُ عَنْ أَعْلَى الـمَلَكُوتِ. فَأَرَاهُ سَنَاءَ الجَبَرُوتِ. حَتَّى نَظَرَ إِلَى قُدْرَةِ الحَيِّ الدَّائِمِ البَاقِي الَّذِي لَا يَمُوتُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ صَلَاةً مَقْرُونَةً بِالجَمَال. وَالحُسْنِ وَالكَمَال. وَالخَيْرِ وَالإِفْضَال. أما بعد....
فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ العَظِيْمِ، إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى فِيْ السِّرِّ وَالعَلَنِ، قال تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوْا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt, Dzat yang tak henti-hentinya melimpahkan karunia dan nikmat-Nya kepada kita semua, termasuk nikmat taufik, hidayah, dan nikmat melaksanakan ibadah shalat Jumat seperti sekarang ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, suri teladan agung yang mengajarkan kita arti sebenar-benarnya rasa syukur dan ketaatan kepada Allah.
Terkadang, dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering lupa betapa banyak karunia yang Allah berikan, terlebih sebagai seorang Muslim, kita dianugrahkan nikmat yang sangat agung berupa iman dan Islam. Dan tentunya harus kita jaga dan kita syukuri serta kita mohonkan kepada Allah agar kedua nikmat tersebut ditetapkan dan tidak dicabut oleh Allah.
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Melalu mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat khusus kepada diri sendiri, umumnya kepada jamaah Jumat sekalian, marilah kita sama-sama meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Dengan senantiasa melakukan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Patut kita syukuri bahwa Allah SWT senantiasa mengkaruniakan kepada kita untuk menikmati ibadah di bulan suci ramadhan ini dalam keadaan sehat wal afiyat. Bulan ramadhan merupakan bulan yang mulia, bulan dimana Allah membuka seluas-luasnya pintu rahmat dan maghfirahnya, dan sungguh kerugian yang nyata, jika seseorang keluar dari bulan ramadhan sedang dosa-dosanya tidak terampuni oleh Allah.
Bulan Ramadhan juga merupakan bulan diturunkannya Al quran yang menjadi pedoman dan petunjuk bagi umat. Allah SWT berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
Artinya, “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS Al-Baqarah [2]: 185)
Ibnu Abbas, Al imam As Suyuthi juga mayoritas ulama ahli tafsir sepakat, bahwa Al-Qur'an diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.Kemudian, dari Baitul ‘Izzah, Al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad ﷺ selama 23 tahun.
Oleh karena itu, salah satu ibadah yang paling utama di bulan yang mulia ini adalah membaca Al Quran atau bertadarus al quran. Para ulama sepakat bahwa bertadarus Al-Qur’an merupakan ibadah yang sangat mulia. Mereka sejak dulu juga menjadikan tadarus sebagai aktivitas selama Ramadhan. Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An Nawawi dalam al Adzkar menyebutkan bahwa dzikir yang paling utama adalah membaca Al Quran dan meresapi maknanya. seseorang hendaknya selalu menyempatkan diri agar membaca al quran baik siang maupun malam sebagaimana yang dilakukan oleh ulama salaf. Ada sebagian dari ulama salaf yang mengkhatamkan al quran sekali dalam 1 bulan, 2 kali, 3 kali dan 4 kali, bahkan diriwayatkan bahwa Mansur bin Zadaan seorang tabi’in mengkhatamkan al quran dalam waktu antara dhuhur dan ashar serta antara maghrib dan isya.
Imam Syafi’i bisa mengkhatamkan Al-Qur’an enam puluh kali sekali Ramadhan, Imam Malik akan menyudahi aktivitas mengajarnya pada bulan Ramadhan untuk dialihfokuskan membaca Al-Qur’an. Kemudian, Sufyan at-Tsauri juga akan meninggalkan ibadah-ibadah sunnah selama bulan Ramadhan agar fokus membaca Al-Qur’an. Zubaid bin Harits al-Yamani, ulama ahli hadits dari kalangan tabi’in, ketika memasuki bulan Ramadhan akan mengumpulkan banyak mushaf guna dibaca bersama murid-muridnya. Masih banyak sekali riwayat yang menjelaskan perhatian ulama untuk bertadarus pada bulan Ramadhan. Dasar anjuran memperbanyak tadarus Al-Qur’an saat Ramadhan dalam riwayat Ibnu Abbas berikut,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Artinya, “Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al-Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah ﷺ melebihi angin yang berhembus.” (HR Bukhari).
Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah setor hafalan Al-Qur’an kepada Malaikat Jibril pada setiap malam hari Ramadhan. Oleh sebab itu, memperbanyak baca Al-Quran disunahkan pada malam hari di bulan tersebut. Alasan malam yang dipilih karena waktu tersebut merupakan momen yang hening, sehingga memungkinkan seseorang lebih khusyuk dan bisa meresapi kandungan makna dari ayat-ayat Al-Qur’an.
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh
Agar memperoleh pahala tadarus yang maksimal, kita juga harus memperhatikan adab-adab membaca Al-Qur’an. Sebagai kitab suci umat muslim yang sangat dimuliakan, tentu membacanya pun memiliki etika-etika khusus. Diantara adab tersebut adalah membaca setiap ayat dengan khusyuk dan merenungi setiap maknanya.
Ayat-ayat yang terkandung dalam Al-Qur’an menyimpan samudera pelajaran yang tak pernah kering. Janji pahala dan surga bagi hambat yang taat, ancaman siksa neraka bagi yang durhaka, kisah umat-umat terdahulu, dan sebagainya, semua dimuat dalam kitab yang terdiri dari 114 surat itu. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya saat kita membacanya tidak asal bunyi, tapi juga merenungi maknanya dengan penuh khusyuk. Allah SWT berfirman,
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ اِلَيْكَ مُبٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوْٓا اٰيٰتِهٖ وَلِيَتَذَكَّرَ اُولُوا الْاَلْبَابِ
Artinya, “(Al-Qur’an ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) yang penuh berkah supaya mereka menghayati ayat-ayatnya dan orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS Shad [38]: 29)
Ayat ini menjelaskan bahwa salah satu tujuan besar Al-Qur’an diturunkan di bumi adalah untuk direnungi kandungan-kandungannya sehingga bisa menjadi penuntun hidup sejati (hudan linnās). Imam An Nawaawi dalam al Adzkar menyampaikan, bahwa hendaknya seorang
membaca quran dengan tadabbur merenungi, meresapi makna yang
terkandung dalam ayat Al-Qur’an saat membacanya. Disunnahkan
pula menangis atau jika belum bisa menangis, usahakan tetap
khusyuk dan penuh kesedihan sehingga ekspresi kita seolah-olah
menangis.
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh
Adab berikutnya dalam membaca al quran adalah memperindah suara. Al-Qur’an yang dibaca dengan suara merdu akan membuat hati terpikat sehingga timbul rasa khusyuk dan mendorong pendengar untuk merenungi kandungannya. Oleh sebab itu, saat bertadarus kita juga dianjurkan menggunakan suara yang merdu. Imam Nawawi menegaskan, semua ulama, baik dari kalangan sahabat Nabi, tabi’in, dan ulama-ulama setelahnya, sepakat bahwa memperindah suara ketika membaca Al-Qur’an hukumnya sunnah. Dasar anjuran memperindah suara ini diantaranya sabda Rasulullah berikut,
زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ
Artinya, “Hiasilah Al Qur’an dengan suaramu.” (HR Abu Dawud)
Bahkan lebih tegas lagi, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR. Bukhari No. 7527, Abu Dawud No. 1469)
Kedua hadits tersebut merupakan anjuran untuk memperindah suara dan melagukan al Quran saat membacanya, namun dengan catatan, jangan sampai upaya ini merusak bacaan seperti memanjangkan harakat di luar batas yang berlaku, membaca pendek harakat yang seharusnya panjang, menambah atau menghilangkan huruf, dan sebagainya. Jika sampai demikian maka haram hukumnya.
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh
Demikian khutbah singkat ini Semoga kita semua selalu diberi spirit untuk membaca dan mengamalkan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan kelak di hari akhir memperoleh syafaatnya dan digolongkan sebagai ahli quran.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لله حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا اَمَرَ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ به وَ كَفَرَ. وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ سَيِّدُ الخلائق وَالْبَشَرِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ مصابيح الغرر وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ الله اِتَّقُوْا الله مِنْ سَمَاعِ اللَغْوِ وفُضُلِ الخَبَر وَانْتَـهُوا عَمَّا نّهّاكُمْ عَنْهُ وَزَجَر وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ أَمَرَكُم بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِه،وَثَنَّى بِالمَلَائِكَةِ المُسَبِّحَةِ لِقُدْسِهِ وَثَلَّثَ بِكُم أَيُّهَا المُؤْمِنُونَ مِن بَرِيَّةِ جِنِّهِ وَإِنْسِه وَفَالَ تَعَالَى مُخْبِرًا وَآمرًا: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَ َارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سيدنا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سيدنا اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وارض اللهم عن الخلفاء الراشدين ساداتنا أبي بكر وعمر وعثمان وعلي وعن سائر الصحابة والتابعين وتابعيهم بإحسان إلى يوم الدين وَارْضَ عَنَّا مَعَهُم برحمتك يا أرحم الراحمين.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. اللهم أعزّ الإسلام والمسلمين واخذل الكفرة والمبتدعة والمشركين. اللهم وفّق ولاة أمورنا إلى ما فيه صلاح الإسلام والمسلمين. اللهم أحببهم للرعية وأحبب الرعية منهم. واجعل جمهورية إندونيسا هذه بلدة آمنة مطمئنّة وسائر بلدان المسلمين إنك على ما تشاء قدير.
رَبَّنَا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبَنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ اَمَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ الله! اِنَّ الله يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَ الْإِحْسَانِ وَ اِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَ يَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْىِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَّكَّرُوْنَ فَاذْكُرُوْا الله الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ واسألوا من فضله يؤتكم وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Tulisan Lainnya
KHUTBAH IDUL ADHA
Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. Khutbah I الله أكبر الله أكبر الله أكبر، الله أكبر عدد ما هلل مهلل وكبر، الله أكبر
Berpamitan Dengan Bulan Ramadhan
Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. (28 Maret 2025) Khutbah Pertama الْحَمْدُ لِلّٰهِ الكَبِيْرِ الـمُتَعَالِ ذِي الإِنْعَامِ وَا
Peringatan Isra' dan Mi'raj Serta Pentingnya Menjaga Sholat Lima Waktu
Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. Khutbah I الْحَمْدُ لِلّٰهِ الكَبِيْرِ الـمُتَعَالِ ذِي الإِنْعَامِ وَالإِفْضَال ال
Taat Kepada Pemerintah yang Sah
Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. Khotbah Pertama الحمد لله أهل الحمد والثناء، المنفرد برداء الكبرياء، المتوحد بصف
Meneladani Akhlak Rasulullah SAW
Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. Khotbah Pertama إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَن
Mengingat Mati
الحمد لله ذي العزة والجبروت. مالك الملك والملكوت. الحي الدائم الذي لا يموت. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِ
Bersyukur kepada Allah
Oleh: Mas Faruq Abdul Muid, M.Pd. الحمد لله أهل الحمد والثناء، المنفرد برداء الكبرياء، المتوحد بصفات المجد والعلاء

