Panggilan Haji dan Panggilan Taubat
Khutbah Jumat mengenai Panggilan Haji dan Panggilan Taubat
Sabtu, 10 Oktober 2026 · Administrator
KHUTBAH JUMAT
Khutbah Pertama
الحَمْدُ لِلهِ، الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي شَرَعَ لَنَا الجِهَادَ، وَحَرَّمَ عَلَيْنَا الفَسَادَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَدَّخِرُهَا لِيَوْمِ المَعَادِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الدَّاعِي بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ فِي أَنْحَاءِ البِلَادِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ وَاجْتِنَابِ المَعَاصِي وَالسَّيِّئَاتِ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيمِ:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Ketika kita berbicara tentang kepahlawanan, kita sering mengaitkannya dengan jihad. Hal ini dapat dipahami karena kepahlawanan selalu menuntut kesungguhan, pengorbanan, keteguhan, dan perjuangan untuk mencapai tujuan yang benar.
Namun, kita perlu memahami bahwa jihad dalam Islam memiliki makna yang luas. Jihad tidak semata-mata berarti perjuangan fisik atau peperangan. Jihad merupakan kesungguhan seseorang dalam mengerahkan kemampuan yang dimilikinya untuk mencapai tujuan yang diridai Allah.
Pemahaman tentang jihad terkadang menjadi sempit karena kata jihad sering dikaitkan hanya dengan perjuangan bersenjata. Padahal, Al-Qur'an menggunakan istilah jihad dalam konteks yang jauh lebih luas.
Salah satu penyebab munculnya pemahaman yang sempit adalah penerjemahan kata anfus dalam beberapa ayat Al-Qur'an. Kata tersebut sering diterjemahkan sebagai "jiwa". Misalnya Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ
"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah, serta orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan, mereka itu saling melindungi satu sama lain." (QS. Al-Anfal: 72)
Allah juga berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan diri mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS. Al-Hujurat: 15)
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,
Kata anfus dalam ayat-ayat tersebut memiliki makna yang luas. Dalam Al-Qur'an, kata nafs dan bentuk jamaknya anfus dapat menunjuk pada diri manusia secara keseluruhan. Maknanya tidak hanya berkaitan dengan nyawa atau jiwa, tetapi juga mencakup keseluruhan potensi manusia.
Karena itu, ketika berbicara tentang jihad dengan anfus, kita dapat memahaminya sebagai pengerahan seluruh kemampuan manusia. Di dalamnya termasuk tenaga, pikiran, ilmu, emosi, waktu, kemampuan, dan berbagai potensi yang dimiliki seseorang.
Pemahaman tersebut semakin kuat ketika Allah berfirman:
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ
"Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya." (QS. Al-Hajj: 78)
Ayat ini tidak membatasi jihad hanya pada penggunaan harta atau perjuangan fisik. Jihad berarti mengerahkan kemampuan secara sungguh-sungguh untuk mencapai kebaikan yang diridai Allah.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Istilah jihad disebut dalam Al-Qur'an dengan berbagai bentuk. Secara umum, maknanya berkaitan dengan kesungguhan dalam mengerahkan kemampuan dan kesediaan untuk berkorban.
Dengan demikian, seorang mujahid adalah orang yang bersungguh-sungguh dalam perjuangannya. Ia mengerahkan tenaga, pikiran, ilmu, waktu, harta, bahkan seluruh potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuan yang benar.
Jihad bukanlah tindakan yang dilakukan dengan putus asa. Jihad juga bukan perjuangan yang didorong oleh kepentingan pribadi. Jihad menuntut keteguhan, kesabaran, keikhlasan, dan kesediaan untuk berkorban.
Jihad juga harus disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan seseorang. Setiap manusia memiliki modal perjuangan yang berbeda. Ada yang memiliki ilmu. Ada yang memiliki tenaga. Ada yang memiliki harta. Ada yang memiliki kedudukan. Ada pula yang memiliki kemampuan untuk mendidik dan membimbing orang lain.
Selama seseorang memiliki kemampuan untuk berbuat baik, selama itu pula ia memiliki ruang untuk berjihad.
Karena itu, orang yang berjihad bukanlah orang yang hanya ingin mengambil manfaat. Seorang mujahid justru memberikan sesuatu yang terbaik dari dirinya. Ia mengorbankan kemampuan yang dimilikinya untuk kebaikan.
Jihad dilakukan karena Allah. Tujuannya bukan sekadar memperoleh pujian manusia, kedudukan, atau keuntungan duniawi.
Allah berfirman:
وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
"Barang siapa berjihad, maka sesungguhnya dia berjihad untuk dirinya sendiri. Sungguh, Allah Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu pun dari seluruh alam." (QS. Al-Ankabut: 6)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa Allah tidak membutuhkan perjuangan manusia. Kitalah yang membutuhkan amal dan perjuangan itu untuk memperbaiki kehidupan kita sendiri.
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,
Jihad membutuhkan kesadaran dan pengetahuan. Karena itu, perjuangan yang dilakukan tanpa ilmu dapat menimbulkan kesalahan. Kesungguhan yang tidak disertai pemahaman dapat berubah menjadi tindakan yang justru merugikan.
Islam mengajarkan kepada kita bahwa perjuangan harus dibangun di atas ilmu, kesadaran, kesabaran, dan tujuan yang benar.
Setiap orang memiliki bentuk jihad yang berbeda.
Jihad seorang ilmuwan adalah menghasilkan dan mengamalkan ilmu yang bermanfaat.
Jihad seorang guru adalah mendidik peserta didiknya dengan sungguh-sungguh.
Jihad seorang mahasiswa adalah belajar dengan tekun dan menggunakan ilmunya untuk kebaikan.
Jihad seorang karyawan adalah melaksanakan pekerjaan dengan profesional dan penuh tanggung jawab.
Jihad seorang pemimpin adalah menegakkan keadilan dan melayani masyarakat.
Jihad seorang pengusaha adalah menjalankan usaha dengan jujur, amanah, dan memberikan manfaat.
Jihad orang tua adalah mendidik dan membimbing anak-anaknya agar menjadi manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak.
Dengan demikian, jihad tidak selalu menghasilkan sesuatu yang sama. Hasil jihad seorang guru berbeda dengan hasil jihad seorang ilmuwan. Hasil jihad seorang pemimpin berbeda dengan hasil jihad seorang pengusaha.
Namun, semuanya memiliki satu prinsip yang sama, yaitu kesungguhan dalam mengerahkan kemampuan untuk mencapai kebaikan dan kemaslahatan.
Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dalam sejarah bangsa kita, para pahlawan juga menunjukkan kesungguhan dan pengorbanan yang luar biasa. Pada masa perjuangan kemerdekaan, banyak orang mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan nyawanya untuk membebaskan bangsa dari penjajahan dan ketidakadilan.
Namun, perlu kita pahami bahwa kematian bukanlah tujuan perjuangan mereka. Tujuan mereka adalah terwujudnya kehidupan yang lebih baik, kebebasan, keadilan, dan masa depan yang lebih bermartabat.
Karena itu, semangat perjuangan para pahlawan tidak tepat jika disamakan dengan tindakan kekerasan yang dilakukan secara sembarangan, apalagi tindakan yang membahayakan masyarakat yang tidak bersalah.
Perjuangan yang benar harus menghasilkan kemaslahatan. Jika sebuah tindakan justru menimbulkan korban, kerusakan, ketakutan, dan persoalan baru, maka tindakan tersebut perlu dikaji kembali kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip Islam.
Islam mengajarkan kepada kita untuk menjaga kehidupan, menjaga kehormatan manusia, menjaga harta, dan menjaga ketenteraman masyarakat.
Jihad pada masa sekarang harus diarahkan untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Jihad harus menghasilkan ilmu, pendidikan, ekonomi yang sehat, keadilan, persatuan, pelayanan sosial, dan peradaban yang bermartabat.
Jihad dapat berarti mencurahkan seluruh kemampuan yang kita miliki. Tenaga kita gunakan untuk bekerja. Pikiran kita gunakan untuk memecahkan masalah. Ilmu kita gunakan untuk mencerdaskan masyarakat. Harta kita gunakan untuk membantu sesama. Waktu kita gunakan untuk kegiatan yang bermanfaat.
Semua itu dapat menjadi bentuk kesungguhan di jalan Allah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang dibenarkan oleh agama.
Allah berfirman:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata pula orang-orang yang sabar?" (QS. Ali Imran: 142)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa iman harus dibuktikan melalui kesungguhan dan kesabaran.
Jamaah shalat Jumat hafidhakumullah,
Mari kita jadikan jihad sebagai semangat untuk memperbaiki diri dan memperbaiki kehidupan.
Jihad melawan kebodohan dengan ilmu.
Jihad melawan kemiskinan dengan kerja dan kepedulian.
Jihad melawan ketidakadilan dengan menegakkan kebenaran.
Jihad melawan kerusakan moral dengan pendidikan dan keteladanan.
Jihad melawan kemalasan dengan kedisiplinan.
Jihad melawan kebencian dengan membangun persaudaraan.
Jihad melawan berbagai persoalan kehidupan dengan kesungguhan, kesabaran, ilmu, dan amal nyata.
Semoga Allah memberikan kepada kita kekuatan untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan setiap tanggung jawab. Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang ikhlas, kesabaran dalam perjuangan, dan kemampuan untuk memberikan manfaat kepada sesama.
Marilah kita meneladani perjuangan Rasulullah ﷺ. Beliau membangun masyarakat dengan ilmu, akhlak, keadilan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap kemanusiaan. Perjuangan beliau tidak hanya mengubah kehidupan individu, tetapi juga membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Semoga jihad kita menjadi jalan menuju kebaikan, bukan sumber kerusakan. Semoga perjuangan kita menghasilkan kemaslahatan, bukan penderitaan. Dan semoga setiap kemampuan yang Allah berikan kepada kita dapat kita gunakan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِالآيَاتِ وَذِكْرِ الحَكِيْمِ، إِنَّهُ تَعَالَى جَوَّادٌ كَرِيْمٌ، مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحِ الغُرَرِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي سَمَاعِ اللَّغْوِ وَفُضُوْلِ الْخَبَرِ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ وَزَجَرَ.
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَثَلَّثَ بِكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ مِنْ بَرِيَّةِ جِنِّهِ وَإِنْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى مُخْبِرًا وَآمِرًا:
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، سَادَاتِنَا أَبِيْ بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاخْذُلِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا إِلَى مَا فِيْهِ صَلَاحُ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ حَبِّبْهُمْ إِلَى الرَّعِيَّةِ، وَحَبِّبِ الرَّعِيَّةَ إِلَيْهِمْ. وَاجْعَلْ جُمْهُوْرِيَّةَ إِنْدُوْنِيْسِيَا هٰذِهِ بَلْدَةً آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً، وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ، إِنَّكَ عَلَى مَا تَشَاءُ قَدِيْرٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Khutbah Jumat mengenai Panggilan Haji dan Panggilan Taubat
Khotbah Jumat tentang syukur bukan sekadar ucapan “al-hamdu lillah”, tapi penggunaan nikmat sesuai syariat — dijelaskan dengan dalil Al-Qur’an, hadis, dan tafsir Ihya Ulumuddin.
Khotbah Jumat tentang hakikat kematian, beratnya sakaratul maut bagi orang zalim, dan kabar gembira bagi mukmin — disertai dalil Al-Qur’an dan hadits.